Bilqis Auto Jadi Anak Kolong Bila Ayu Ting Ting Menikah dengan Muhammad Fardana?

Bilqis Auto Jadi Anak Kolong Bila Ayu Ting Ting Menikah dengan Muhammad Fardana?

Liputanfakta.net – Ayu Ting Ting telah dilamar oleh anggota TNI AD Muhammad Fardana. Bila telah lama resmi menikah, pedangdut itu akan otomatis terikat menjadi anggota ibu Persit Kartika Chandra Kirana, sebutan untuk persatuan istri anggota TNI AD.

Tidak semata-mata sang biduan, anaknya Bilqis Khumairah Razak juga bisa saja jadi punya julukan baru bila Ayu Ting Ting telah dilakukan resmi menjadi istri Muhammad Fardana. Yakni, julukan sebagai anak kolong. 

Diketahui bahwa anak dari prajurit TNI kerap kali disebut dengan julukan anak kolong. Dikutip dari situs Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat, anak kolong memang benar menjadi istrilah kiasan bagi anak tentara. Meski begitu bukan dijelaskan secara rinci apakah istilah yang dimaksud dapat berlaku bagi anak sambung.

Potret Lamaran Ayu Ting Ting (Instagram/@aliencophoto)
Potret Lamaran Ayu Ting Ting (Instagram/@aliencophoto)

Peneliti Balai Bahasa Jawa Barat Asep Rahmat Hidayat menyatakan kalau istilah anak kolong telah dilakukan ada sekitar tahun 1980-an. Dia merujuk pada situs penyedia korpus bahasa Indonesia yang mana berbasis pada Jerman bahwa istilah anak kolong masih digunakan kemudian dimaknai sesuai dengan yang tersebut tercatat di tempat KBBI, hanya saja pada contoh dikenakan juga untuk anak polisi. 

Sehingga, istilah anak kolong merujuk pada ‘anak tentara atau polisi’ kemudian bernada negatif atau digunakan sebagai ejekan.

Sejarah Istilah Anak Kolong

Menurut Reggie Baay (Nyai kemudian Pergundikan di area Hindia Belanda, 2010: 89) kemunculan istilah anak kolong berawal dari pergundikan dalam tangsi. Pada tahun 1830 dibentuk satuan tentara kolonial Hindia Belanda yang digunakan pada tahun 1933 mulai dikenal dengan nama KNIL. Para serdadu direkrut dari beragam bangsa, Pribumi, Eropa, bahkan Afrika. 

Karena budaya perjodohan juga pernikahan muda, berbagai serdadu Pribumi yang dimaksud sudah ada menikah ketika menjalani dinas ketentaraan. Mereka diizinkan hidup dengan di tempat pada tangsi. Hal itu mengakibatkan kecemburuan di tempat kalangan serdadu Eropa. Akhirnya, merek juga diizinkan berhubungan tanpa nikah di dalam di tangsi.

Para serdadu tinggal pada asrama yang mana disebut chambree. Asrama itu berbentuk ruangan besar dengan deretan ranjang besi berkasur jerami. Untuk serdadu-serdadu yang sudah pernah berkeluarga dan juga “berkeluarga” ditempatkan pada ruang terpisah dengan ranjang bertingkat. 

Ruang itu tambahan besar dari yang tersebut didapat para bujang sebab anak-anak juga tidur dalam lantainya, di tempat berhadapan dengan tikar. Ruang dalam bawah tempat tidur itu lazim disebut kolong. Setiap ranjang bertingkat dan juga ruang di dalam sampingnya diberi pemisah terdiri dari kain terpal yang tersebut dipasang sebagai tirai. Untuk serdadu yang digunakan anaknya berbagai kolong tadi digunakan juga sebagai tempat tidur. Sejak itu, muncullah istilah anak kolong.