G Sidharta, Kuantitas Jawa, dan juga Kekuasaan

G Sidharta, Kuantitas Jawa, lalu juga Kekuasaan

Liputanfakta.net – Bambang Asrini
Pemerhati seni, sosial lalu budaya

SEORANG maestro pembaru patung di tempat Indonesia secara niscaya melekat pada sosok dan juga karya almarhum Gregorius Sidharta Soegijo. Selama dua bulan tambahan sejak Februari sampai akhir Maret ini, kembali kita dihantar presentasi pameran pada kemungkinan nilai – nilai yang dimaksud unik tentang patung-patungnya yang digunakan elok, senimannya kemudian apa yang dimaksud diwariskan. Terutama, konteksnya pada fenomena-fenomena hari ini yang digunakan dipresentasikan di area Art Agenda, sebuah galeri privat di tempat Ibukota Pusat.

Galeri seni ini telah menghelat sebagian lima serial karya-karya para perintis seniman-seniman Indonesia modern. Yang paling menarik tentunya, pada pengalaman kita sebagai penikmat seni terbiasa mengawasi dan juga mengapresiasi beberapa karya seniman-seniman maestro kita, semisal dalam banyak Museum dan juga Galeri Nasional di dalam Indonesia seperti sosok-sosok Ahmad Sadali, Soedjojono atau Affandi.

Selain itu, tentu ada tantangan yang mengakibatkan kita pemahaman bahwa para seniman itu mengerti secara sungguh-sunggh tentang makna zeit geist, semangat zaman. Demikian juga kita temui itu di dalam sana, di tempat galeri Art Agenda dengan patung-patung sang maestro.

Satu pada waktu zaman mengakibatkan Soedjojono kearah yang tak terpikirkan oleh kita dalam abad ke-21, tatkala ia mengakibatkan inspirasi dari Jean Désiré Gustave Courbet. Seorang pelukis selama Prancis yang mengatur pergerakan Realisme di lukisan Perancis abad ke-19 kemudian kemudian “di-Indonesiakan”—diadaptasi ulang pada semangat revolusi tahun 1940-an. Tentu dengan karya-karya “realisme sosial” ala Soedjojono di tempat Tanah Air. Meski masih digali terus tentang realitas ekspresi seni Soedjojono yang mana acapkali menjadi turnamen perdebatan sejarawan seni. Namun, Soedjojono menghadirkan semangat zaman itu menggali ulang makna revolusi kemerdekaan juga tuturan tentang realisme sosial.

Baca Juga:Terungkap Bahasa Jawa Ngoko-Krama Hanya untuk Melanggengkan Kekuasaan Dinasti Mataram

Sementara, kita mengawasi apa yang mana sesungguhnya terjadi dengan G.Sidharta tak sangat jauh beda lalu klaim para kritikus seni awal kita, sebagai ia semata-mata “Bapak Patung Kontemporer” di dalam Indonesia. Semangat “kontemporarisme” ala G. Sidharta membuka wacana bahwa rapat nilai-nilai standar seni yang dimaksud dikatakan Barat yang tersebut diyakini pada zaman itu, telah lama mulai melampuk, digantikan oleh progresivitas juga kemungkinan-kemungkinan yang baru.

Yang tak mengindahkan otentisifitas sebuah ekspresi karya kemudian merujuk pada geografis kemudian kultural — yang dimaksud Barat atau yang mana Timur. Dalam langgam sederhana, G. Sidharta — hampir mirip dengan Soedjojono angkatan seniman senior diatasnya; mereka itu membuka wacana “yang tradisi kemudian yang tersebut lokal” pada mengintimasi “patung modern/ lukisan yang Barat”, yang digunakan pada perspektif ala Soedjojono “membumikan” karya- karya Gustave Courbet pada Indonesia.

Mantra dari Barat dengan kukuh telah terjadi luruh pada pertengahan abad ke-20 bahwa seni modern dihampiri kekayaan luar biasa dari ranah kebudayaan global (yang Barat serta yang digunakan Timur sekaligus) dan juga pematung kita, G. Sidharta telah dilakukan tak terbantahkan menjadi garda terdepan untuk itu.

Kontekstual Angka Jawa

Sebagai individu Nasrani yang dimaksud taat pada keluarga besar pecinta berat seni juga seniman Soegijo dari Jogjakarta, G.Sidharta pada nadinya melekat nilai-nilai kosmologis Jawa. Perjalanan belajar dengan melanglang buana meneruskan studinya, yakni pada waktu tahun 1953 pada Jan van Eyck Academie, Belanda, selama tiga tahun memperluas cakrawala pengetahuan seni Barat yang tersebut justru pada waktu sebanding menambatkan kembali pada esensi awal kodrat ekspresi seninya: nilai-nilai Jawa. Kejawaan lalu kontekstualnya pada fenomena hari-hari ini yang digunakan mungkin saja tepat dilekatkan pada helatan patung-patung G. Sidharta kali ini di dalam Art Agenda.

Patung-patung lumayan mungil beberapa orang lima belas buah, pada sekitar ukuran 25 x 28 x 9.5 cm sampai 70 x 95 x 38 cm dengan cetak materi bronze dan juga dipoles dengan pewarnaan artistik tertentu (patinasi), yang mana selain menghindari korosi pada teknik logam, Art Agenda membingkai kuratorialnya dengan juluk Unearthed.