Bisnis  

Gubernur Bank Sentral negara Israel Was-was Sektor Bisnis Negaranya Ambyar Gara-gara Perang

Gubernur Bank Sentral negara tanah Israel Was-was Bagian Bisnis Negaranya Ambyar Gara-gara Perang

Liputanfakta.net – Kondisi Keuangan negara Israel dikabarkan mulai terguncang akibat kebijakan militer yang digunakan frontal dalam berada dalam serangan masif merekan ke wilayah penduduk sipil di area Kawasan Gaza dan juga Rafah.

Terkait hal ini, Gubernur Bank Sentral Israel, Amir Yaron berkilah sektor ekonomi negaranya terganggu lalu menegaskan akan segera pulih dari dampak serangan ke Palestina.

Meski demikian, ia menggarisbawahi perlunya pemerintah negara Israel mengatasi hambatan yang mana dihadapi, khususnya setelahnya lembaga pemeringkat Moody’s menurunkan peringkat kredit negara tersebut.

Yaron menekankan pentingnya memperbaiki kepercayaan bursa juga lembaga pemeringkat di area Israel. Menurutnya, hal ini merupakan langkah kunci yang dimaksud harus diambil oleh pemerintah dan juga Knesset untuk mengatasi tantangan perekonomian yang mana terungkap pada laporan Moody’s.

“Di masa lalu, kita telah dilakukan berhasil pulih dengan cepat menuju kemakmuran. Perekonomian negeri Israel mempunyai kekuatan untuk menghadapi tantangan pada waktu ini serta meyakinkan pemulihan yang dimaksud sama,” jelasnya, seperti yang tersebut dilaporkan oleh Reuters, disitir pada pada Hari Senin (12/2/2024).

Sejak serangan militer negara Israel ke Kawasan Gaza pada Oktober 2023, Gubernur Bank Sentral Israel, Yaron, telah terjadi terus menggerakkan pemerintah untuk menjaga kedisiplinan fiskal kemudian menghurangi pengeluaran yang mana tiada terkait dengan respons tanah Israel terhadap kelompok Hamas.

Moody’s juga memotong peringkat kredit tanah Israel untuk pertama kalinya menjadi “A2”, yang tersebut masih lima tingkat di area menghadapi “investment grade” dari A1, sementara prospek kreditnya tetap memperlihatkan negatif. Langkah ini menunjukkan bahwa kemungkinan penurunan lebih besar lanjut masih ada.

Dalam laporannya, Moody’s menyoroti risiko kebijakan pemerintah lalu fiskal yang dimaksud signifikan dari konflik tersebut, serta menyatakan bahwa defisit anggaran negara Israel diperkirakan akan jarak jauh lebih lanjut besar daripada yang mana sebelumnya diprediksi sebelum terjadinya perang.

Israel terancam terjerat utang, yang mana kemungkinan akan mengakibatkan pemangkasan anggaran juga peningkatan pajak guna mengendalikan defisit anggaran yang semakin tidaklah terkendali jikalau kondisi ini berlangsung lama.

Selain itu, Moody’s juga menyampaikan bahwa rasio utang terhadap barang domestik bruto (PDB) diperkirakan akan mencapai puncaknya pada tahun 2025, yakni sebesar 67%, dibandingkan dengan 62,1% pada tahun 2023.

S&P Ratings juga berpotensi menurunkan peringkat kredit negara Israel apabila konflik dengan organisasi Hamas meluas. Para pejabat pemerintahan Netanyahu sebelumnya telah lama menyetujui revisi anggaran negara tahun 2024 yang mana menambahkan puluhan miliar syikal untuk mendanai pertempuran serta memberikan kompensasi terhadap mereka itu yang terkena dampak. Revisi ini juga meningkatkan defisit anggaran tahun ini menjadi 6,6% dari PDB, dari sebelumnya 2,25%.