Ini adalah Kepentingan Memonitor Kondisi Pasien Gagal Jantung Secara Berkala

Ini adalah adalah Kepentingan Memonitor Kondisi Pasien Gagal Jantung Secara Berkala

Liputanfakta.net – Berdasarkan data European Society of Cardiology, satu dari 5 orang dalam dunia mempunyai resiko mengalami gagal jantung, lalu hitungan prevalensi ini meningkat seiring penambahan usia. Menurut International Journal of Cardiology tahun 2016, pada Indonesia sendiri terdapat lebih tinggi dari tiga belas jt orang yang mana mengalami gagal jantung.

Ahli jantung dari Primaya Hospital, dr Rony M Santoso SpJP (K) FIHA mengatakan, penyakit gagal jantung ditandai dengan keluhan sesak nafas lalu bengkak pada kedua kaki, yang mana disebabkan oleh berkurangnya fungsi pompa jantung.

“Dikarenakan pada waktu ini belum ada terapi yang dapat menyembuhkan secara total, kondisi gagal jantung hanya saja dapat dimonitor secara berkala juga menjaga gaya hidup untuk menjaga dari terjadinya kemunduran,” jelas beliau pada perkenalan HFM (Heart Failure Monitor) dalam Primaya Hospital Tangerang, Selasa (30/1/2024).

Untuk memudahkan hal tersebut, (Heart Failure Monitor), teknologi untuk memonitor pasien gagal jantung dari jarak terpencil pertama pada Indonesia diperkenalkan. 

HFM merupakan sebuah perangkat digital yang dimaksud bermanfaat untuk pemantauan jarak jarak jauh pasien gagal jantung, yang digunakan bekerja dengan cara mendeteksi gejala yang tersebut signifikan pada pasien gagal jantung, sehingga dapat dilaksanakan tindakan intervensi atau penanganan dengan cepat dan juga tepat.

HFM (Heart Failure Monitor) Teknologi Lanjutan Untuk Memonitor Kondisi Pasien Gagal Jantung (Suara.com/Dinda R)
HFM (Heart Failure Monitor) Teknologi Lanjutan Untuk Memonitor Kondisi Pasien Gagal Jantung (Suara.com/Dinda R)

Bekerjasama dengan SPACE Singapore, HFM merupakan sebuah perangkat medis berbasis Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) berbentuk seperti stetoskop yang dimaksud disambungkan ke aplikasi mobile handphone. Alat ini bekerja dengan mendeteksi kelebihan cairan pada paru-paru, yang merupakan gejala umum gagal jantung hanya sekali di kurun waktu 30 detik setelahnya diletakan di tempat dada pasien. 

“Hasil deteksi dari perangkat yang dimaksud akan masuk ke di aplikasi mobile handphone untuk kemudian dapat dianalisa oleh dokter dan juga diberikan penanganan yang dimaksud tepat,” pungkasnya.

Alat ini sudah pernah dites dengan lebih banyak dari 3000 rekaman dari pasien gagal jantung dari Tan Tock Seng Hospital yang digunakan merupakan bagian dari Singhealth Group dari Singapore juga Primaya Hospital, dengan hasil akurasinya mencapai lebih banyak dari 90%. 

Lebih lanjut dr. Rony mengungkap jikalau ada lebih banyak dari 100 pasien gagal jantungnya yang telah lama menggunakan HFM untuk memantau kondisi penyakitnya di area rumah. Pemanfaatan alat ini bermanfaat bagi pasien untuk memantau kondisinya secara berkala, juga sewaktu ada perasaan khawatir terkait kondisinya.

“Alat yang dimaksud akan memberikan notifikasi terhadap dokter yang mana merawatnya ketika dibutuhkan. Hal yang disebutkan akan menenangkan pasien pasca merekan pulang dari rumah sakit kemudian ketika pada kondisi sendiri di dalam rumah maupun ketika pada perjalanan,” pungkasnya.

HFM juga bermanfaat untuk para dokter oleh sebab itu mereka diberikan data-data mengenai keluhan pasiennya, yang mana bertujuan tidak cuma untuk intervensi sesaat namun juga manajemen penyakit dengan lebih lanjut efektif, dimana pada pada waktu ini masih sulit dilakukan.

(Sumber: Suara.com)